




| Selamatkan Ikan Endemis Danau Kita |
|
|
|
| Written by Mega Ihyamuis |
| Friday, 16 January 2009 17:15 |
![]() Kompleks Danau Malili merupakan salah satu hotspot biodiversity terkaya di Kawasan Wallacea. Lebih dari 62% jenis ikan endemis air tawar Sulawesi berada di Kompleks Danau Malili. Sayangnya ikan-ikan tersebut mengalami ancaman, terutama oleh masuknya ikan introduksi yang dikhawatirkan akan memangsa ikan-ikan endemis tersebut. Hasil penelitian Fadly Y. Tantu yang dipaparkan dalam Internasional Conference on Alfred Russel Wallace and The Wallacea menunjukkan Kompleks Danau Malili (Matano, Mahalona, Towuti, Wawontoa, dan Masapi) menjadi habitat tidak kurang dari 32 spesies dari 52 jenis ikan endemis perairan tawar Pulau Sulawesi.
Menurut peneliti ikan dari Universitas Tadulako-Palu ini, terdapat empat famili ikan yang penyebarannya terbatas hanya di Kompleks Danau Malili, yaitu , Gobiidae, Oryziidae, dan Hemiramphidae. ”Jenis ikan endemik dari danau-danau ini punya kekhasan dan habitat spesifik sehingga setiap danau di Kompleks Danau Malili memiliki jenis ikan yang berbeda,” ungkap Fadly di depan forum yang dihadiri oleh ilmuan dalam dan luar negeri. Dari keempat jenis tersebut, famili Telmatherinidae merupakan kelompok yang paling beragam ditemukan di Kompleks Danau Malili. Sejauh yang telah diidentifikasi, diantara 17 jenis famili ikan yang oleh masyarakat Sorowako disebut Opudi, delapan jenis ditemukan di Danau Matano, masing-masing adalah: Telmatherina abendanoni, T. antoniae, T. obscura, T. opudi, T. prognatha, T. sarasinorum, T. wahjui. dan Telmatherina albolabiosus sp. nov. Jenis yang disebutkan terakhir ini merupakan catatan baru yang belum masuk dalam daftar ikan Dunia. ”Ikan ini kami temukan tahun 2000 dan sebelumnya kami namakan “Telmatherina ‘whitelips’ karena memiliki kekhasan bibir putih yang tebal,” imbuh Fadly. Melihat keanekaragaman biota endemik, khususnya ikan di Kompleks Danau Malili yang kaya bahkan diyakini masih ada kemungkinan akan bertambahnya jenis-jenis baru yang belum dideskripsikan, maka tidak mengherankan jika kawasan tersebut telah menjadi laboratorium para peneliti, terutama peneliti asing dalam kurun lebih dari 20 tahun terakhir ini.Sayangnya, spesies ikan asli danau mulai terancam oleh hadirnya ikan dari luar kawasan danau. Dari hasil survey yang dilakukan Fadly dkk. di Kompleks Danau Malili ditemukan sedikitnya 20 jenis ikan introduksi, seperti mujair, nila, oscar, dan louhan. ”Ini ancaman serius. Ikan asing itu akan menjadi pesaing makanan, tempat, dan bahkan pembawa penyakit bagi ikan asli danau,” terangnya. Pria yang sedang menyelesaikan program doktornya di IPB mengkhawatirkan jika kondisi tersebut dibiarkan, ikan-ikan asli danau akan hilang, seperti yang telah terjadi di Danau Lindu dan Danau Poso dimana ikan-ikan jenis asing dari luar kawasan telah memangsa dan menyebabkan hilangnya ikan asli danau. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama dari semua pihak dalam kerangka melindungi ikan-ikan asli penghuni danau. Antara lain, kebijakan pemerintah Luwu Timur untuk menghentikan atau melarang introduksi ikan ke danau. Dan bagi kita masyarakat Sorowako, mungkin bisa dirancang suatu kegiatan untuk membersihkan ikan-ikan asing tersebut, misalnya lomba mancing ikan louhan atau aktivitas lainnya. Sebab, pelestarian ekosistem Kompeks Danau Malili harus dilakukan bersama-sama baik masyarakat, pemerintah maupun swasta di Luwu Timur.
Set as favorite
Bookmark
Email This
Hits: 1091 Comments (7)
![]() written by tessa, January 27, 2009
tulisan ini baguuus sekali. saya permisi numpan copy paste ke blog saya ya.
written by Megaihyamuis, January 28, 2009
Silakan Mbak, tapi sumbernya tolong dicantumkan ya
Thanks,
Kerja Sama Untuk Konservasi Ikan Endemik
written by Fadly Y.Tantu, February 01, 2009
Kompleks danau Malili adalah Danau Purba, didalamnya banyak tersimpan biota akuatik endemik (di dunia hanya ada disini). Karena itu marilah kita jaga bersama kawasan ini. Konservasi Ikan Endemik dari Kompleks Danau Malili membutuhkan kerjasama yang terpadu antar masyrakat, pengusaha, pemerintah, LSM, Perguruan Tinggi (Stakeholder), Lebih dari sepuluh tahun secara periodik dan intensif melakukan survey memonitor perkembangan biodiversitas kawasan ini, banyak pengalaman dan harapan yang perlu didiskusikan. Karena itu saya membuka diri kepada siapa saja yang ingin mendapatkan informasi mengenai biodiversiti biota Aquatik dari kawasan ini. Saya akan membantu sepanjang yang saya bisa. Mari kita jaga dan peliara secara bersama kawasan unik ini dari kerusakan.
Tabek .... silahkan \n This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it '> This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it written by Yohannes Rukka, May 06, 2009
Seperti ada pepatah jerman...Orang akan berbicara sesuai apa yang dia ketahui. sedikit polemik dari apa yang tertuang dari gambaran di atas adalah kekuwatiran yang kurang mendasar atau hanya sekedar paradikma dari sebuah lingkupan yang kecil. memang benar salah satu aspek kepunahan berasal dari perilaku orang di sekitar itu sejauhmana mereka berinteraklsi positif maupun negatif akan selalu berdampak sebagai akibat hubungan alamiah/simbiosis...etc.kalau dari sisi pandangan saya, memang lebih baik kalau kita bisa melindungi apa yang telah ada sebelumnya dengan kata lain kita melestarikannya namun jangan sampai apa yang datang dari luar selamanya dipandang sebagai suatu yang negatif atau selalu dijadikan kambing hitam dari polemik permasalahan di sekitar itu. hal yang penting harus di pahami adalah kehidupan,lingkungan hidup dan semua yang hidup selamanya akan mengalami yang namanya siklus, ataupun perubahan. Jadi sebetulnya yang perlu kita pahami adalah bagaimana mengontrol setiap perubahan itu tidak menjadi terlalu besar pengaruhnya terhadap kondisi awalnya, selama kondisinya sekitar normal2 saja apa salahnya kalau kita biarkan apa adanya sesuai hakikat alam itu sendiri mengalami siklus dan perkembangan......jns
written by wowgold, November 26, 2009
Leftovers? It's left-outs that deserve some dish. Sant Singh Chatwal, an Indian hotelier and Democratic donor, noticed a glaring difference between Tuesday night's state dinner in honor of the Indian prime minister and the one he attended in honor of the wow gold Indian prime minister back in 2000. "There were a lot more Indian Americans there last time," Chatwal said, referring to the Clinton administration's outgoing bash, a much larger affair. This year, he said, there seemed to be "mostly White House staffers."
Write comment
|
| Last Updated on Friday, 16 January 2009 22:54 |