|
Belajar tidak mengenal usia. Semangat belajar itu kini merambah ke Dusun Lahumpangi Barat, yang terletak di Desa Parumpanai, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur. Dusun yang berjarak sekitar 20 km dari Kota Malili, dihuni sekitar 135 KK dan 320 jiwa, dengan mata pencaharian berkebun cokelat dan becocok tanam padi. Umumnya penduduk dusun ini berasal dari Bone, Wajo, dan Soppeng yang sudah berdomisili dikawasan itu selama lebih dari 10 tahun.
Untuk menuju ke Lahumpangi sebagian melalui jalan terjal berbukit dan berkelok serta sebagian lagi belum bisa ditempuh dengan roda empat, hanya bisa ditempuh dengan roda dua dan berjalan kaki. Pada musim hujan, jalan menuju dusun ini sebagian berlumpur. Secara geografis kawasan ini cukup menjanjikan untuk dijadikan sebagai tempat bercocok tanam, dimana tanahnya cukup subur, hanya saja dibutuhkan fasilitasi untuk mengajak masyarakat agar mampu mengolah pertanian secara baik. Dari data yang dihimpun oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Nuha Jaya, tercatat sekitar 339 orang yang masih buta aksara di sekitar Desa Parumpanai dari jumlah penduduk 4800 jiwa dengan umur berkisar 15 tahun hingga 49 tahun. Tim PKBM Nuha Jaya yang difasilitasi Tim Comdev PT Inco melakukan beberapa kali survey. Hasilnya, disepakati untuk membentuk 3 titik kegiatan belajar masyarakat, yaitu selain di Dusun Lahumpangi Barat, juga terdapat di Dusun Lahumpangi Timur dan Dusun Koropansu, dengan jumlah peserta belajar tahap awal sekitar 46 orang. “Karena masih ada peserta belajar yang masih usia sekolah, untuk kelompok ini akan dilanjutkan dengan program paket A, B, dan C, karena hasil diskusi dengan mereka, ternyata anak-anak usia sekolah yang putus sekolah tersebut, juga menghendaki ijazah, rencana program ini akan dikerjasamakan antara Comdev PT. Inco, PKBM Nuha Jaya dan Diknas Luwu Timur,” ujar Haris , pengelola PKBM Nuha Jaya. Disamping program paket tersebut diatas, direncanakan pula tahun ini untuk pengadaan taman baca dititik-titik lokasi belajar mereka. Menurut Haris, bila hal ini bisa diwujudkan maka paling tidak diwaktu-waktu senggang masyarakat dapat memanfaatkan waktunya membaca untuk kelanjutan dari proses belajar yang lalu. Dalam evaluasi tahap pertama, tambah Haris, bahan bacaan yang disediakan di taman bacaan itu nantinya berkenaan antara lain dengan pertanian, perkebunan, cerita-cerita rakyat, dan teknologi tepat guna. “Buku-buku itu mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan masyarakat di sini sehingga dapat bermanfaat untuk peningkatan keterampilan dan kesejahteraan mereka. Paling tidak walaupun mereka petani tapi dapat juga hidup lebih baik ,” terang Haris. Antusiasme masyarakat dalam mengikuti program ini cukup besar. “Ini teridentifikasi dengan banyaknya permintaan untuk manambah titik-titik lokasi belajar,” pungkas Haris.
 |
we provide a world of warcraft gold or wow power leveling and