|
Sudah menjadi gejala umum, kehidupan petani semakin tahun semakin menurun ditambah lagi dengan adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Dapat dilihat di lapangan, di saat musim tanam harga-harga sarana produksi pertanian selalu melonjak. Selain itu, produktivitas lahan semakin menurun, lahan pertanian subur menciut, dan terjadi gagal panen yang disebabkan bencana alam. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat akan makanan sehat semakin meningkat. Sementara di banyak tempat kandungan bahan organik tanah minim karena kekeliruan petani dalam mengelola usaha taninya. Yang selalu terulang, harga jual hasil pertanian para petani cenderung rendah di saat tibanya musim panen sehingga selalu merugikan petani.
Dari latar belakan tersebut, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, PT Inco bekerjasama dengan Pemkab Luwu Timur menggelar program pelatihan fasilitator dan pendamping petani yang berjangka waktu dua tahun, yang dimulai pertengahan Desember ini, selama sepekan, di Kecamatan Wasuponda. “Program ini merupakan pelatihan dan pendampingan bagi para fasilitator, pendamping dan pelaku dibidang pertanian dalam arti luas, serta lembaga kelompok tani , baik yang terkait dengan manajemen maupun operasionalnya,” ungkap Idris Abdul Rasyd, Superintendent Community Relations PT Inco. Dalam program ini, tambah Idris Abdul Rasyd, akan diupayakan pemecahan permasalahan tersebut melalui berbagai pendekatan antara lain: pemilihan lokasi yang tepat, pemilihan varietas/jenis komoditas yang tepat dan pemilihan teknologi tepat guna yang sesuai dengan kondisi didaerah tersebut. “Ini program pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian ramah lingkungan,” jelas Idris Abdul Rasyd. Dengan program ini, PT Inco sedang berupaya mendampingi petani untuk membangun sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berbasis organik, terutama menyangkut tanaman pangan dan hortikultura, sehingga dapat dikonsumsi segera secara sehat karena tidak mengandung residu bahan kimia berlebihan. Apabila sistem pertanian ini dapat dilakukan dengan baik, maka areal pertanian masyarakat akan terhindar dari kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di hampir seluruh Indonesia. Selama ini para petani di Tana Luwu, umumnya dalam melaksanakan kegiatan usaha taninya, masih mengandalkan penggunaan pupuk kimia untuk meningkatkan kesuburan tanah, dengan harapan produktivitas hasil pertanian mereka bisa meningkat. Sedangkan untuk pengendalian hama dan penyakit, para petani masih mengandalkan pestisida kimia dengan harapan produksi dan pendapatan dari hasil pertanian mereka bisa meningkat. Kenyataannya berbanding terbalik dengan pendapatan yang mereka terima setelah panen, karena jumlah benih/bibit yang digunakan terlalu banyak dan tidak memenuhi standar mutu yang sesungguhnya, akibatnya kegiatan usaha tani yang dilaksanakan menjadi padat modal, sehingga hasil yang diterima menjadi sangat sedikit, dan menjadikan lahan pertanian mereka menjadi rusak dan tidak ramah lingkungan. Tujuan dari program ini, menurut Idris Abdul Rasyd, antara lain : mensosialisasikan serta menerapkan model pertanian yang ramah lingkungan dan organik, melatih fasilitator, pendamping dan petani agar dapat menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan, melatih fasilitator, pendamping dan petani dalam memanfaatkan potensi alam dan bahan yang berbasis organik, melatih fasilitator, pendamping dan petani, dalam melakukan kegiatan budidaya pertanian yang efisien, terukur dan menguntungkan, sehingga mampu secara signifikan memberi dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Selain itu, program ini juga melatih fasilitator, pendamping dan petani, dalam mengelola dan memperkuat organisasi petani secara mandiri dan produktif, « terang Idris Abdul Rasyd. Dalam program ini, para petani dilatih secara berkala dalam jangka periode 2 tahun. Materi pelatihan mencakup antara lain : pengantar pemberdayaan, tujuannya agar masyarakat khususnya petani mampu menilai diri dan memiliki kemampuan untuk maju dan berubah. “ Ada juga strategi membangun komunitas dan organisasi yang kuat. Tujuannya memberikan stimulus agar terbentuk komunitas yang mandiri dan produktif. Serta strategi budidaya pertanian yang ramah lingkungan mulai dari : pengolahan tanah, pembibitan, penanaman; pemeliharaan; pembuatan pupuk organik, panen dan pasca panen, “ pungkas Idris Abdul Rasyd.
 |
ruguoniyoulaokeken